Penelitian
Pengertian
Publikasi ilmiah adalah salah satu komponen penting dalam pendidikan tinggi. Dosen dan mahasiswa khususnya di tingkat doktoral sebagai peneliti dituntut untuk memiliki publikasi di jurnal internasional sebagai salah satu hasil dari penelitian yang telah dilakukan. Tidak hanya sembarang jurnal, kita dituntut mempublikasi hasil penelitian di jurnal terindeks, termasuk di Program Studi Doktor FK-KMK UGM mensyaratkan bagi mahasiswa doktoral untuk publikasi jurnal minimum pada Quartile 3 (Q3).
Saat ini ribuan jurnal diterbitkan di seluruh dunia. Namun, tidak sedikit jurnal-jurnal predator yang menawarkan proses submisi yang mudah dan cepat namun tidak bisa dipertanggungjawabkan kualitasnya. Hal ini perlu diwaspadai agar artikel dapat dipublikasikan di jurnal terindeks dan terjamin kualitasnya.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Dikti telah mengidentifikasi jurnal-jurnal yang harus dihindari sebab dipertanyakan kredibilitasnya. Daftar dapat diakses melalui tautan berikut: Link
Tautan daftar lengkap Discontinued Sources List Scopus Edisi Desember 2025: Link
Pemilihan jurnal memerlukan pertimbangan dari aspek kualitas jurnal. Bagi mahasiswa yang submit manuskrip ke jurnal yang diskontinyu Scopus setelah bulan Desember 2025 dan manuskripnya kemudian accepted atau terpublikasi, maka manuskrip tersebut tidak dapat digunakan sebagai syarat untuk ujian tertutup.
Publikasi Mahasiswa dan Alumni Prodi Doktor FKKMK UGM

Outcomes of vaccinations against respiratory diseases in patients with end-stage renal disease undergoing hemodialysis: A systematic review and meta-analysis
Metalia Puspitasari ,Prenali D. Sattwika ,Dzerlina S. Rahari ,Wynne Wijaya ,Auliana R. P. Hidayat ,Nyoman Kertia ,Bambang Purwanto ,Jarir At Thobari
Abstract
Due to the nature of the disease, end-stage renal disease (ESRD) patients suffer from dysfunction of the adaptive immune system, which leads to a poorer response to vaccination. Accordingly, it is crucial to evaluate the efficacy and safety of management strategies, including vaccinations, which could potentially reduce the risk of respiratory diseases, such as pneumonia, influenza, or COVID-19, and its associated outcomes. We searched PubMed, CENTRAL, ScienceDirect, Scopus, ProQuest, and Google Scholar databases using designated MeSH keywords. The risk of bias was assessed using ROBINS-I. The quality of evidence was assessed using the GRADE (Grading of Recommendations, Assessment, Development, and Evaluation) approach. Relative risk (RR) and 95% confidence interval (CI) were calculated. Heterogeneity was investigated using forest plots and I2 statistics. This systematic review included a total of 48 studies, with 13 studies of influenza (H1N1 and H3N2) vaccination and 35 studies of COVID-19 vaccination. H1N1 vaccination in ESRD patients undergoing hemodialysis induced lower seroconversion rates (RR 0.62, 95% CI: 0.56–0.68, p <0.00001) and lower seroprotection rates (RR 0.76, 95% CI: 0.70–0.83, p <0.00001) compared to controls. H3N2 vaccination in ESRD patients undergoing hemodialysis yielded lower seroconversion rates (RR 0.76, 95% CI: 0.68–0.85, p <0.00001) and lower seroprotection rates (RR 0.84, 95% CI: 0.77–0.90, p <0.00001) compared to controls. Twenty-nine studies demonstrate significantly lower antibody levels in ESRD patients undergoing hemodialysis compared to the controls following COVID-19 vaccination. This review presents evidence of lower seroconversion and seroprotection rates after vaccination against viral respiratory diseases in patients with ESRD undergoing hemodialysis. Since hemodialysis patients are more susceptible to infection and severe disease progression, a weakened yet substantial serological response can be considered adequate to recommend vaccination against respiratory diseases in this population. Vaccination dose, schedule, or strategy adjustments should be considered in stable ESRD patients on maintenance hemodialysis.

Integrated Diabetes Self-Management (IDSM) mobile application to improve selfmanagement and glycemic control among patients with Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) in Indonesia: A mixed methods study protocol
𝗜𝗻𝘁𝗲𝗴𝗿𝗮𝘁𝗲𝗱 𝗗𝗶𝗮𝗯𝗲𝘁𝗲𝘀 𝗦𝗲𝗹𝗳 𝗠𝗮𝗻𝗮𝗴𝗲𝗺𝗲𝗻𝘁 (𝗜𝗗𝗦𝗠) 𝗺𝗼𝗯𝗶𝗹𝗲 𝗮𝗽𝗽𝗹𝗶𝗰𝗮𝘁𝗶𝗼𝗻 𝘁𝗼 𝗶𝗺𝗽𝗿𝗼𝘃𝗲 𝘀𝗲𝗹𝗳𝗺𝗮𝗻𝗮𝗴𝗲𝗺𝗲𝗻𝘁 𝗮𝗻𝗱 𝗴𝗹𝘆𝗰𝗲𝗺𝗶𝗰 𝗰𝗼𝗻𝘁𝗿𝗼𝗹 𝗮𝗺𝗼𝗻𝗴 𝗽𝗮𝘁𝗶𝗲𝗻𝘁𝘀 𝘄𝗶𝘁𝗵 𝗧𝘆𝗽𝗲 𝟮 𝗗𝗶𝗮𝗯𝗲𝘁𝗲𝘀 𝗠𝗲𝗹𝗹𝗶𝘁𝘂𝘀 (𝗧𝟮𝗗𝗠) 𝗶𝗻 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮: 𝗔 𝗺𝗶𝘅𝗲𝗱 𝗺𝗲𝘁𝗵𝗼𝗱𝘀 𝘀𝘁𝘂𝗱𝘆 𝗽𝗿𝗼𝘁𝗼𝗰𝗼𝗹
oleh
Dewi Murdiyanti Prihatin Putri, Yoyo Suhoyo, Ariani Arista Putri Pertiwi, Christantie Effendy
Penelitian ini memiliki tujuan menginisiasi teknologi aplikasi berbasis android sebagai alat bagi pasien, keluarga, dan penyedia layanan kesehatan untuk mengoptimalkan pengobatan diabetes melitus tipe 2. Desain studi exploratory sequential mixed-methods digunakan dalam penelitian dengan tiga tahap. Tahap pertama akan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pasien, keluarga, perawat, dokter, dan petugas BPJS akan dilibatkan dalam FGD dan wawancara. Selanjutnya, tahap kedua akan dilakukan pengembangan aplikasi android berdasarkan hasil pada tahap pertama. Pada tahap ketiga, umpan balik dari pengguna akan dikumpulkan setelah menggunakan aplikasi selama tiga bulan. Hasil dari penelitian direncanakan berupa aplikasi yang bernama Integrated Diabetes Self-Management (IDSM).
Buku panduan bagi penderita diabetes melitus yang berjudul “Sehat dengan DiaRIn: Diabetes Melitus Terintegrasi di Indonesia” merupakan luaran dari penelitian ini.

Estimation of Japanese encephalitis virus infection prevalence in mosquitoes and bats through nationwide sentinel surveillance in Indonesia

The Effect of PRKAA2 Variation on Type 2 Diabetes Mellitus in the Asian Population: A Systematic Review and Meta-Analysis
Dita Maria Virginia, Iwan Dwiprahasto, Mae Sri Hartati Wahyuningsih , Dwi Aris Agung Nugrahaningsih
Abstract:
The prevalence of type 2 diabetes mellitus (T2DM) is increasing among Asians. The adenosine monophosphate-activated protein kinase (AMPK) increases T2DM risk through insulin resistance. Glucose levels are related to AMPK subunit α2 encoded by PRKAA2. This systematic review and meta-analysis aimed to analyse the association between PRKAA2 variation and T2DM risk. Publication search related to PRKAA2 and T2DM used PubMed, ProQuest, and ScienceDirect databases. Article selection based on inclusion and exclusion criteria only included Japanese and Chinese populations. This meta-analysis used five genotype models to estimate the effect of PRKAA2 variation and T2DM risk. Additionally, a fixed-effect model was selected to measure the pooled size effect if P > 0.05 or I2 < 50%. Qualitative analysis included four eligible studies, and meta-analysis included only two studies because both showed data concerning rs2746342 variation. Patients with G allele are 1.45 times more likely to have T2DM than patients with T allele (95% confidence interval [CI]: 1.20, 1.76; P: 0.0001). Notably, patients who had GG genotype have 1.96 times higher risk of T2DM compared with those with TT genotype (95% CI: 1.34, 2.87; P: 0.0005), dominant model (odds ratio [OR]: 1.75; 95% CI: 1.32, 2.31; P: 0.001), and recessive model (OR: 1.43; 95% CI: 1.01, 2.01; P: 0.04). PRKAA2 variation, especially in rs2746342, has an association with T2DM risk in the G allele, additive, dominant, and recessive models. G allele might be the most contributable factor in increasing T2DM susceptibility.
Keywords: AMP-activated protein kinase, genetic variation, type 2 diabetes mellitus, risk factor, Asian

The difference in collagen type-1 expression in women with and without pelvic organ prolapse: a systematic review and meta-analysis
Pelvic organ prolapse (POP) adalah organ dasar panggul yang turun dari tempat seharusnya. Kondisi ini terjadi akibat otot dan ligamen yang menyokong organ-organ di sekitar daerah panggul melemah. Kondisi ini merupakan gangguan umum di kasus ginekologi, dengan sekitar 37% pasien melakukan pengobatan medis. Meskipun POP tidak menyebabkan kematian atau keparahan penyakit yang signifikan, POP dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup wanita.
Beberapa faktor risiko yang terkait dengan POP telah diidentifikasi dan dipelajari, termasuk usia, paritas, status menopause, indeks massa tubuh, ras, genetika, gangguan jaringan ikat, merokok, peningkatan tekanan perut kronis seperti pekerjaan fisik atau penyakit paru-paru kronis, sembelit kronis, dan riwayat operasi sebelumnya.
Secara molekuler, perubahan matriks ekstraseluler (ECM) pada jaringan ikat struktur dasar panggul termasuk ligamen sakrouterina, ligamen kardinal, dan fasia endopelvis dapat berkontribusi pada kejadian prolaps organ panggul (POP).
Berkurangnya kandungan kolagen, perubahan rasio jenis kolagen dan perubahan kolagen dikaitkan (cross-linking) pada sistem pendukung dasar panggul, termasuk ligamen sakrouterina, ligamen kardinal, dan fasia endopelvis pada wanita dengan POP. Namun berbagai penelitian masih menunjukkan hasil dan data yang dapat diberdebatkan karena minimnya ukuran sampel, lokasi biopsi dan metodenya.
Selengkapnya di: bit.ly/Paper-Akbar

Roles and Problems of Stroke Caregivers: A Qualitative Study in Yogyakarta, Indonesia
Caregiver memainkan peran utama dalam perawatan pasien pasca stroke. Sejumlah besar perawatan, terutama untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari, sangat penting bagi penderita stroke untuk meningkatkan status fungsional mereka. Oleh karena itu, caregiver disarankan untuk terlibat dalam perawatan pasien pasca stroke untuk meningkatkan kualitas manajemen pasien. Saat ini, terdapat banyak penelitian terkait pengalaman merawat pasien pasca stroke. Namun, peran dan masalah yang dikelola oleh caregiver saat merawat pasien pasca stroke di Indonesia belum banyak diteliti. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran dan masalah caregiver pasca stroke di Indonesia.
Selengkapnya: bit.ly/Paper-Paryono